Optimis

16.05.00 Nanda Firdaus 0 Comments

             Kita Harus tetap optimis. Sebab tugas kita adalah mengusahakan perubahan sehingga Allah menunaikan janji pengubahannya. Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim

             2014 masih dipenuhi catatn duka, sehingga tak layak kita memasuki tahun baru dengan gegap gepita.
Di berbagai belahan dunia umat islam masih terluka. Di Patani, Rohingya, Tiongkok, Gaza hingga Suria luka itu masih menganga.
Di bawah tirani yang berkuasa kaum muslimin tersiksa di bawah ancaman senjata.
Anak anak kecil meringkuk kedinginan di dalam Kardus, di tenda, dan di balik reruntuhan bangunan yang tersisa.

           Kita benar benar telah menyaksikan orang orang zalim mengintimidasi orang orang islam di negeri mereka.
Puluhan bahkan ratusan kaum muslimin ditahan setiap hari tanpa pengadilan. Bahkan mereka tidak melewatkan hari tanpa siksa, tak peduli anak anak, wanita orang tua, ataupun pemuda.

           Masih banyak uluran tangan kaum muslimin kepada mereka untuk sekedar berbagi bahagia.
Setidaknya tangan masih terulur untuk berdoa, " Ya Allah bantulah saudara saudara kami kaum muslimin kapanpun dan dimanapun mereka berada."

            Sementara di Negeri kita, berbagai syubhat terbuka, mulai dari wacana pencabutan UU penodaan agama hingga penghapusan kolom agama.
Itu belum seberapa. Berbagai pemikiran sesat berkembang dimana mana. Syiah mengadakan pertemuan di kementrian agama. Ulama mereka berbicara di masjid termegah di ibukota. "Tuhan" dinistakan di sekolah berbasis agama. Di Koran,  karikatur dibuat untuk menghina. Tuduhan teroris masih saja disematkan bagi mereka yang membela agama.

           Dimana mana kritenisasi merajalela. Ditempat tempat umum dan terbuka.
Sementara kehidupan rakyat semakin sengsara setelah naiknya harga harga.
Karena lagi lagi penguasa belum berpihak pada rakyatnya.
Kata sejahtera masih jauh dari kaum papa. Peluang bagi misionaris pun semakin terbuka.

          Kita harus tetap optimis bagaimanapun kondisi kita. 
Mengusahakan perubahan sehingga Allah akan menunaikan janji pengubahannya.
Meskipun kadang kita tak cukup punya energi untuk memunculkannya. Begitulah adanya. Tapi kita membutuhkan lebih dari sekadar kata. Kita memerlukan komitmen dan kesabaran. Komitmen akan menuntun kita tetap berada di rel kebenaran sementara sabar mengikat kita pada komitmen betapapun besarnya ujian dan problematika yang menghadang.

Semoga lembaran sejarah ke depan diisi dengan kebaikan. Lembar demi lembarnya mencatat kebangkitan. Optimis.

Ar risalah